
MENEMBUS HUTAN JATI MENUJU SEPINYA RUMAH KETUA BPUPKI (Mengapa Kita Melupakan Dr. Radjiman?)
Oleh:
Dr. H. Susilo Surahman
Baru saja (10 Juni 2026) saya berdiri dan berfoto di depan sebuah rumah limasan Jawa yang bersahaja di pelosok Dusun Dirgo, Widodaren, Ngawi. Rumah ini adalah Situs Cagar Budaya Nasional, tempat tinggal masa tua seorang tokoh raksasa sejarah Indonesia: Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat.
Bagi generasi saya atau Gen Z hari ini, nama Radjiman mungkin hanya sekadar baris teks di buku pelajaran sejarah, atau sekilas wajah di uang kertas seribuan baru. Beliau adalah Ketua BPUPKI. Bayangkan, beliau adalah orang yang memimpin sidang, mengetuk palu, dan menampung gagasan-gagasan besar seperti Pancasila ketika fondasi negara ini pertama kali dirumuskan. Tanpa kebijaksanaan beliau mengarahkan sidang yang penuh perdebatan, entah jadi apa format negara kita hari ini.
Namun, perjalanan saya menuju situs ini menyisakan sebuah ironi besar.
Untuk sampai ke sini, kita harus membelah hutan jati, masuk jauh ke pelosok desa. Perjalanan yang mestinya menjadi sebuah “ziarah sejarah” yang sakral justru terasa sepi dan sunyi. Sesampainya di lokasi, yang tersisa benar-benar hanya rumah asli yang kosong dari keramaian. Tidak ada fasilitas pendukung yang interaktif, tidak ada pusat informasi yang memikat, tidak ada narasi yang dihidupkan untuk menarik perhatian wisatawan. Tempat ini seolah berjalan lambat di tengah zaman yang bergerak serbacepat.
Bahkan, hal sekecil nama jalan di depan situs ini pun tidak mengabadikan namanya. Ironis, bukan? Menghargai ketua BPUPKI tapi enggan menyematkan namanya sebagai identitas jalan di depan rumahnya sendiri. Mestinya, minimal jalan di depan situs ini bernama Jalan Dr. Radjiman Wedyodiningrat. Saya sendiri ke sana awalnya karena kebetulan, tanpa tahu bahwa di pelosok Ngawi ini tersimpan aset sejarah sedahsyat ini. Sejarah beliau seakan perlahan dilupakan dan sengaja diasingkan.
Inspirasi dari Anak Rakyat Jelata
Padahal, kisah hidup Dr. Radjiman adalah “role model” (panutan) yang sangat dibutuhkan oleh anak muda zaman sekarang. Beliau adalah bukti nyata dari sebuah perjuangan hidup. Lahir sebagai anak rakyat jelata, dari keluarga prajurit berpangkat rendah, beliau tidak menyerah pada kemiskinan. Beliau masa kecilnya bertugas mengantar sekolah tuannya yang orang belanda. Saat itulah ia menguping pelajaran dari luar jendela sekolah, belajar mandiri, hingga akhirnya diijinkan mengikuti sekolah. Kecerdasannya membawanya hingga kuliah kedokteran di STOVIA dan lanjut ke Eropa.
Beliau bukan cuma jadi dokter biasa, tapi salah satu dokter spesialis kandungan pertama di Indonesia! Di masa jayanya, beliau diangkat jadi bangsawan keraton (KRT). Namun, alih-alih hidup bermewah-mewah di kota besar, di masa tuanya beliau justru memilih hidup sederhana di pelosok Ngawi, mengobati warga desa secara gratis.
Di zaman sekarang, saat banyak orang mengejar validasi, kekayaan instan, dan jabatan, Dr. Radjiman menunjukkan apa itu arti dedikasi, kesederhanaan, dan pengabdian tanpa batas. Ini adalah tamparan sekaligus inspirasi bagi Gen Z.
Panggilan untuk Pemerintah
Oleh karena itu, lewat tulisan ini, saya ingin mengusulkan, bahkan mendesak pemerintah, baik daerah maupun pusat, untuk meningkatkan perhatian pada Situs Dirgo di pelosok hutan ini.
Menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata sejarah yang menarik memang butuh modal. Namun, itulah tugas pemerintah: berinvestasi pada ingatan kolektif bangsa. Jangan biarkan situs ini hanya jadi rumah tua yang sepi. Buatlah museum digital yang interaktif di sana, bangun fasilitas yang ramah anak muda, hidupkan UMKM warga sekitar lewat konsep “eco-tourism”.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang amnesia, yang baru peduli pada sejarah ketika jejaknya sudah rata dengan tanah. Dr. Radjiman sudah memberikan segalanya untuk lahirnya republik ini, masak kita tidak bisa merawat rumah masa tuanya dengan layak?



