
PUASA RAMADHAN (Dari Ritual Individual ke Kesalehan Sosial)
Oleh:
Dr. H. Susilo Surahman, S.Ag., M.Pd., MCE.
Ketua Alkah Baitul Rahman Yogyakarta
Setiap bulan Ramadhan, masyarakat Muslim mengalami perubahan besar dalam ritme kehidupan. Jam kerja disesuaikan, aktivitas ekonomi meningkat, masjid dan ruang publik dipenuhi kegiatan keagamaan, sementara media sosial ramai dengan konten religius. Ramadhan tidak sekadar menjadi momentum spiritual, tetapi juga fenomena sosial yang membentuk wajah keberagamaan umat Islam kontemporer. Namun, di tengah semarak itu, pertanyaan mendasar perlu diajukan: sejauh mana puasa benar-benar membentuk kesadaran etis dan sosial, bukan sekadar rutinitas ritual?
Puasa dalam Islam pada dasarnya bukan hanya ibadah menahan lapar dan haus. Al-Qur’an menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Ketakwaan ini tidak semata-mata bermakna hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga tercermin dalam relasi horizontal dengan sesama manusia. Dengan kata lain, puasa seharusnya melahirkan kesalehan sosial, bukan hanya kesalehan individual.
Secara ideal, puasa melatih pengendalian diri, empati, dan kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga, ia diharapkan mampu memahami realitas hidup kaum miskin yang mengalami kekurangan bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi sepanjang tahun. Dari sini, puasa seharusnya menjadi sumber etika sosial: mendorong solidaritas, kepedulian, dan keberpihakan pada kelompok rentan.
Namun, realitas sosial sering menunjukkan paradoks. Di bulan puasa justru terjadi peningkatan konsumsi, pemborosan makanan, dan gaya hidup konsumtif. Tradisi buka bersama, misalnya, sering kali bergeser dari sarana kebersamaan menjadi ajang pamer, eksklusivitas, dan hedonisme. Data ekonomi bahkan menunjukkan bahwa belanja rumah tangga cenderung meningkat signifikan selama Ramadhan, mulai dari makanan, pakaian, hingga hiburan.
Ironisnya, semangat menahan diri yang menjadi inti puasa justru kalah oleh logika pasar dan budaya konsumsi. Puasa yang semestinya mendidik kesederhanaan malah terjebak dalam praktik berlebih-lebihan. Di titik ini, puasa berisiko kehilangan makna transformasionalnya dan hanya menjadi ritual tahunan yang bersifat simbolik.
Selain itu, praktik keberagamaan di bulan Ramadhan juga sering terjebak pada formalitas. Ukuran keberhasilan puasa kerap direduksi pada indikator lahiriah: rajin tarawih, tadarus, atau unggahan religius di media sosial. Padahal, esensi puasa tidak terletak pada intensitas simbol keagamaan semata, melainkan pada perubahan sikap hidup: kejujuran, keadilan, kesabaran, dan kepedulian sosial.
Di sinilah pentingnya membaca puasa secara kritis. Puasa bukan hanya proyek spiritual individual, tetapi juga proyek sosial dan moral. Ia seharusnya membentuk subjek yang lebih peka terhadap ketimpangan, penindasan, dan ketidakadilan. Dalam konteks masyarakat modern yang sarat kompetisi, konsumerisme, dan krisis solidaritas, puasa justru semakin relevan sebagai latihan etika kemanusiaan.
Lembaga pendidikan, memiliki peran strategis dalam mereaktualisasi makna puasa ini. Ramadhan seharusnya tidak hanya dipahami sebagai agenda ritual kampus, tetapi juga sebagai ruang refleksi kritis: bagaimana nilai-nilai puasa diterjemahkan dalam praksis akademik, sosial, dan kebijakan publik. Puasa perlu dibaca sebagai etos intelektual yang mendorong kejujuran ilmiah, keadilan struktural, dan keberpihakan pada kemanusiaan.
Di tingkat individu, puasa semestinya melahirkan kesadaran bahwa menahan diri bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari kebencian, hoaks, kekerasan simbolik, dan eksploitasi sesama. Puasa melatih disiplin batin untuk tidak mudah menghakimi, tidak serakah, dan tidak abai terhadap penderitaan sosial di sekitar kita.
Dengan demikian, keberhasilan puasa tidak bisa diukur hanya dari selesai atau tidaknya ibadah secara formal, tetapi dari sejauh mana puasa mengubah cara pandang dan cara hidup. Apakah setelah Ramadhan kita menjadi lebih jujur? Lebih peduli? Lebih adil dalam relasi sosial dan profesional? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi indikator utama keberhasilan puasa.
Pada akhirnya, puasa Ramadhan adalah ibadah transformasional. Ia bukan sekadar ritual spiritual, melainkan proses pembentukan manusia yang utuh: manusia yang sadar diri, sadar sosial, dan sadar kemanusiaan. Jika puasa hanya berhenti pada menahan lapar, maka ia kehilangan makna terdalamnya. Tetapi jika puasa mampu melahirkan kesalehan sosial, maka Ramadhan benar-benar menjadi ruang pembaruan moral bagi individu dan masyarakat.



