
Webinar Manajemen Kecemasan dalam Penguatan Kesejahteraan Psikologis dan Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi
Kampus IBISA, Sabtu 13 Juni 2026 – Dalam rangka meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental serta menciptakan lingkungan kampus yang aman dan nyaman bagi seluruh sivitas akademika, telah diselenggarakan Webinar “Manajemen Kecemasan dalam Penguatan Kesejahteraan Psikologis dan Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi” secara luring dan daring melalui platform Zoom..
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan berbagai pemangku kepentingan di lingkungan perguruan tinggi. Webinar bertujuan memberikan pemahaman mengenai pengelolaan kecemasan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan psikologis sekaligus mendukung pencegahan berbagai bentuk kekerasan di lingkungan kampus.
Dalam pemaparannya, narasumber yang pertama Ibu Widyaning Hapsari, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa kecemasan merupakan respons alami yang dapat muncul akibat tekanan akademik, tuntutan sosial, maupun berbagai tantangan kehidupan mahasiswa. Namun, apabila tidak dikelola dengan baik, kecemasan dapat berdampak pada kesehatan mental, menurunkan kualitas interaksi sosial, serta memengaruhi kemampuan individu dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan konflik secara konstruktif.
Selain membahas strategi manajemen kecemasan, webinar juga memberikan perhatian khusus pada isu pencegahan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Narasumber yang kedua Ibu Karina Sukardi, S.T, MM. merupakan Kaprodi Sarjana Bisnis Digital sekaligus anggota Satgas PPKPT ( Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi) menekankan bahwa kampus harus menjadi ruang yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik, verbal, psikologis, perundungan (bullying), diskriminasi, maupun kekerasan seksual.
Menurut Ibu Karina Sukardi, S.T, MM., pencegahan kekerasan tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi, tetapi juga seluruh sivitas akademika. Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai bentuk-bentuk kekerasan, faktor risiko yang dapat memicu terjadinya kekerasan, serta mekanisme pelaporan dan penanganan yang tersedia di perguruan tinggi.
Dalam sesi tersebut dijelaskan bahwa salah satu langkah penting dalam pencegahan kekerasan adalah membangun budaya saling menghormati, menghargai keberagaman, serta memperkuat komunikasi yang sehat antarwarga kampus. Kesejahteraan psikologis yang baik diyakini dapat membantu individu mengelola emosi secara lebih positif, mengurangi perilaku agresif, serta meningkatkan empati terhadap orang lain.
Narasumber juga menguraikan beberapa strategi pencegahan kekerasan di perguruan tinggi, antara lain:
- Peningkatan literasi kesehatan mental melalui edukasi dan sosialisasi secara berkelanjutan.
- Penguatan kebijakan kampus yang mendukung pencegahan dan penanganan kekerasan secara cepat, adil, dan transparan.
- Penyediaan layanan konseling dan pendampingan psikologis bagi mahasiswa maupun tenaga pendidik yang membutuhkan.
- Pembentukan lingkungan belajar yang inklusif dan suportif, sehingga setiap individu merasa aman untuk berpendapat dan berinteraksi.
- Penguatan mekanisme pelaporan dan perlindungan korban, agar kasus kekerasan dapat ditangani secara tepat tanpa menimbulkan stigma.
Sebagai bentuk implementasi nyata komitmen perguruan tinggi dalam pencegahan dan penanganan kekerasan, kampus telah mengoptimalkan peran Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) melalui platform digital PPKPT yang dapat diakses melalui laman ppkpt.ibisa.ac.id Platform ini berfungsi sebagai pusat informasi, edukasi, konsultasi, serta kanal pelaporan yang aman dan mudah diakses oleh seluruh sivitas akademika. Melalui sistem tersebut, mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, maupun pihak lain yang mengetahui adanya dugaan kekerasan dapat menyampaikan laporan secara langsung dengan tetap memperhatikan prinsip kerahasiaan dan perlindungan terhadap pelapor maupun korban.
Dalam paparannya, narasumber yang ketiga di isi oleh Bapak Saiful Bahri, S.Kom, M.Kom menjelaskan bahwa keberadaan platform digital Satgas PPKPT merupakan langkah strategis untuk mengurangi hambatan pelaporan yang selama ini sering terjadi akibat rasa takut, stigma, atau kekhawatiran akan adanya intimidasi. Sistem pelaporan daring memungkinkan korban maupun saksi untuk melaporkan berbagai bentuk kekerasan, seperti kekerasan fisik, psikis, seksual, perundungan (bullying), diskriminasi, dan intoleransi secara lebih cepat dan terdokumentasi dengan baik. Keberadaan kanal pelaporan yang aman dan berpihak pada korban merupakan salah satu fungsi utama Satgas PPKPT dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai cara mengelola kecemasan menjelang ujian, menghadapi tekanan akademik, hingga langkah yang harus dilakukan ketika menyaksikan atau mengalami tindakan kekerasan di lingkungan kampus. Narasumber mengajak seluruh peserta untuk berani mencari bantuan ketika menghadapi masalah psikologis maupun menjadi korban kekerasan, serta tidak ragu memanfaatkan layanan yang telah disediakan oleh institusi.
Melalui webinar ini, diharapkan peserta tidak hanya mampu menerapkan strategi manajemen kecemasan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam membangun budaya kampus yang sehat, aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam mendukung kesejahteraan psikologis sivitas akademika sekaligus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kekerasan demi terciptanya lingkungan pendidikan yang bermartabat dan berkeadilan.



