
DI TENGAH BADAI PHK DAN AI (Donor Darah sebagai Jaring Pengaman Kemanusiaan yang Paling Hakiki)
Oleh:
Dr. H. Susilo Surahman
Di tengah riuhnya diskursus publik sepanjang paruh pertama tahun 2026 yang didominasi oleh kecemasan atas gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta masifnya disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Hari Donor Darah Sedunia membawa refleksi yang mendalam. Hari peringatan ini bukan lagi sekadar ritual kesehatan tahunan, melainkan sebuah momentum untuk menegaskan kembali eksistensi dan harga diri manusia yang mulai tergerus oleh algoritma dan kalkulasi ekonomi pasar. Saat manusia modern merasa kehilangan kendali atas nilai ekonominya di ruang kerja, bilik-bilik donor darah justru menjadi ruang spiritual yang mengingatkan kita bahwa tubuh manusia memiliki nilai kemanusiaan universal yang tidak akan pernah bisa direduksi oleh mesin atau status slip gaji.
Mengapa donor darah menjadi begitu krusial di tengah situasi krisis ini? Jawabannya terletak pada dekonstruksi makna sedekah dan konsep Hifdzun Nafs (menjaga jiwa) dalam Islam. Selama ini, masyarakat terjebak dalam stigma bahwa menolong sesama harus selalu berbentuk materi atau finansial. Ketika badai PHK melanda, ruang untuk bersedekah secara ekonomi tentu menyempit karena masyarakat dipaksa fokus pada strategi bertahan hidup (survival mode). Di sinilah Islam memberikan jalan keluar yang sangat demokratis melalui konsep “sedekah biologis”. Selagi fisik sehat, setiap manusia-tanpa memandang isi dompet atau status pekerjaannya-memiliki modal yang sama agungnya di hadapan Allah SWT untuk menyambung hidup orang lain. Donor darah adalah bentuk nyata dari Ukhuwah Insaniyah (persaudaraan sesama manusia) yang melampaui sekat-sekat sosial. Darah yang kita donorkan tidak pernah bertanya apa warna kulit, partai politik, atau keyakinan sang penerima kelak.
Secara empiris, sains modern hingga hari ini belum mampu menciptakan formula darah sintetis yang sempurna. Sehebat apa pun AI menulis kode program, melukis, atau memprediksi pasar saham, teknologi tidak akan pernah bisa memproduksi sel darah merah, plasma, atau hemoglobin. Ketergantungan dunia medis pada kebaikan hati individu adalah bukti mutlak bahwa manusia adalah makhluk terbaik (ahsanul taqwim) yang tak tergantikan oleh silikon dan cip komputer. Dari kacamata agama, ketergantungan ini adalah ruang transendental yang sengaja Allah ciptakan agar manusia saling membutuhkan (ta’awun). Hal ini sejalan dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 32: “Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” Sebutir cip AI mungkin bisa menyelamatkan efisiensi perusahaan, namun setetes darah manusialah yang menyelamatkan peradaban.
Oleh karena itu, mari kita ubah kecemasan kolektif akibat ketidakpastian ekonomi dan disrupsi teknologi ini menjadi sebuah energi kesalehan sosial yang konkret. Ketika dunia luar terasa semakin dingin dan transaksional karena hitung-hitungan efisiensi korporasi, biarlah jarum donor darah menjadi pengikat kehangatan kemanusiaan kita. Menjadi donor darah aktif di masa sulit ini adalah bentuk “jihad kemanusiaan” kontemporer. Saat pasar kerja mungkin mendepak kita karena dianggap kalah produktif dari robot, ingatlah bahwa dunia medis dan Allah SWT tetap memanggil kita karena esensi kemanusiaan kita yang tak ternilai. Sebab pada akhirnya, tolok ukur kemuliaan kita bukanlah seberapa canggih teknologi yang kita gunakan, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa kita alirkan untuk sesama (khoirunnas anfa’uhum linnas).



