
Kolaborasi Kemdiktisaintek dan Komisi X DPR RI Gelar Workshop Bina Talenta, Dorong Inovasi dan Hilirisasi Riset Kampus
Purworejo– Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat sinergi dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI melalui penyelenggaraan rangkaian Workshop Bina Talenta di berbagai perguruan tinggi. Mengusung semangat “Diktisaintek Berdampak”, kolaborasi strategis ini bertujuan untuk mengasah kapasitas talenta akademik, mendorong adaptasi transformasi digital, serta memastikan hasil riset kampus dapat diwujudkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat luas.
Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Gedung A IBISA, Kamis (6/8/2026) di hadiri langsung oleh Anggota Komisi X DPR RI, Bramantyo Suwondo, M.M.IR, Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Panji Cepi, Pakar Bidang Riset dan Publikasi Ilmiah Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, Akademisi bidang riset penelitian dan pengabdian Sarwoko, S.Kep., Ns., M.Kes., Rektor IBISA dan jajarannya, Dosen Mahasiswa serta segenap kepala sekolah stake holder di linkungan kabupaten purworejo.


Pada gelaran di Institut Teknologi Bisnis dan Kesehatan Bhakti Putra Bangsa Indonesia (IBISA), workshop difokuskan pada “Penguatan Talenta Akademik melalui Inovasi Teknologi dan Hilirisasi Riset untuk Meningkatkan Daya Saing di Kabupaten Purworejo“. Anggota Komisi X DPR RI, Bramantyo Suwondo, M.M.IR, yang hadir sebagai pembicara kunci menegaskan bahwa transformasi digital di dunia pendidikan merupakan keniscayaan yang tidak bisa ditolak oleh institusi pendidikan tinggi.
Anggota Komisi X DPR RI, Bramantyo Suwondo, dalam paparannya di IBISA Purworejo mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam suatu daerah tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan global, jika tidak diimbangi dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kemampuan berinovasi. “Masa depan pembangunan ada di tangan generasi muda. Talenta akademik bukan hanya mahasiswa yang berprestasi atau dosen yang produktif di lingkungan kampus saja, melainkan mereka yang memiliki keberanian mengubah ilmu pengetahuan menjadi solusi konkret di masyarakat,” ujar sosok yang akrab disapa Mas Bram tersebut.
Sejalan dengan visi parlemen, perwakilan dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek RI, Pandji Cepi, turut memaparkan arah kebijakan pemerintah pusat dalam mendorong riset yang memiliki nilai guna menuju Paradigma “Diktisaintek Berdampak”. Menurut Pandji, saat ini riset dari perguruan tinggi dituntut untuk tidak berhenti hanya sebagai tumpukan dokumen laporan atau sebatas mencari publisitas akademis belaka. “Penelitian harus mulai dihilirisasikan menuju produk-produk inovasi yang mampu menjawab kebutuhan industri serta menyelesaikan persoalan-persoalan spesifik di masyarakat,” tegasnya. Melalui program Workshop Bina Talenta, Kemdiktisaintek dan Komisi X DPR RI berharap perguruan tinggi tidak lagi berjarak dengan realitas masyarakat (menara gading), melainkan mampu mencetak lulusan unggul yang adaptif, kompetitif, serta menjadi motor utama penggerak transformasi sosial dan ekonomi bangsa.
Menariknya, dalam rangkaian workshop ini, turut dihadirkan Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, seorang pakar pendidikan yang memaparkan gagasan esensial bertajuk “Transformasi & Inovasi Akademik Pendidikan Tinggi Berdampak Berkelanjutan (PBB)”.
Dalam paparannya, Prof. Harun Joko Prayitno menekankan perlunya perubahan paradigma yang mendasar (transformasi) dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. Ia menggarisbawahi bahwa inovasi di lingkungan kampus haruslah bermuara pada dampak yang berkelanjutan (sustain), bukan sekadar program populis sesaat.
“Pendidikan Tinggi Berdampak Berkelanjutan (PBB) mensyaratkan agar setiap invensi atau temuan dari hasil penelitian, harus bisa diterjemahkan menjadi inovasi yang solutif. Transformasi akademik harus dirancang sedemikian rupa agar lulusan yang kita hasilkan tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis dan kepekaan sosial,” urai Prof. Harun.
Ia memaparkan lebih lanjut bahwa implementasi PBB membutuhkan kepemimpinan akademik yang visioner, kurikulum yang responsif terhadap dinamika global (seperti transisi energi dan digitalisasi), serta kolaborasi pentahelix yang kuat antara kampus, pemerintah, industri, komunitas, dan media. “Inovasi tanpa dampak yang terukur, hanyalah akan menjadi menara gading. Pendidikan tinggi harus menjadi rahim bagi lahirnya solusi-solusi masa depan yang berkelanjutan bagi bangsa,” tegasnya.
Melengkapi gagasan transformasi akademik tersebut, tampil pula Sarwoko, S.Kep., Ns., M.Kes. yang membedah materi secara lebih taktis dengan tajuk “Penguatan Talenta Akademik melalui Inovasi Teknologi dan Hilirisasi Riset”.
Sebagai akademisi dengan latar belakang sains kesehatan yang kuat, Sarwoko memberikan perspektif konkret tentang bagaimana talenta di perguruan tinggi harus didorong agar mampu memanfaatkan teknologi untuk menginisiasi riset-riset terapan.
“Penguasaan teknologi oleh sivitas akademika harus bermuara pada hilirisasi riset. Artinya, penelitian-penelitian yang dilakukan, baik di laboratorium, klinik, maupun di tengah masyarakat, tidak boleh sekadar menjadi pajangan di perpustakaan kampus. Talenta akademik harus didorong agar riset mereka mampu menjadi produk, sistem, atau layanan inovatif yang bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan diserap oleh dunia industri,” papar Sarwoko.
Menurutnya, hilirisasi adalah bukti nyata bahwa sebuah perguruan tinggi mampu hadir membawa solusi atas permasalahan riil di lapangan.



